All About Love

"Ibu!" Bisikanlah di telinga-ku : Dear LoverBoy-ku "tak apa2 jika kamu merasa takut, berarti di sana masih ada kesempatan!" & itu pasti jangan takut...

About Me

Foto Saya
Maddie Depal Suyadi
Indonesia Blogger - Blogger Indonesia - piSS-bloGGer bukan yang paling pintar, hanya ingin berbagi sedikit pengetahuan kepada Anda.. so Enjoy..!! Salam Blogger Mania Di Indonesia.

Saat ini sedang aktif  menulis konten-konten tutorial blogger, photoshop, Sosial Media dan TI. Kadang iseng menulis puisi, cerpen dan artikel2 tentang buku dan juga karya seni digital abstrak dan surealis :)
Lihat profil lengkapku

Menu Hati

Fo'Love'ers

Komen Lover

25 Mei, 2010

Si Pahit Umur

Menandai, kalam malam dalam kerut wajah
Menoreh, layu daun pada tatap mata binar
Menyibak, tabir hati dalam kalbu

Musnah... Musnah.. Musnah,
Di bawa kabur iblis penjaga pikiran

Hati.. hati.. Hati..
Bisiknya lirih, senyap Nur cahaya.

Walau begitu, ku siapkan tongkat untuk
menapaki jalan sempit agak curam licin.

Seorang Bapak bermandikan cahaya
mengingatkan dengan senyum anggunnya

Hati.. hati nak tergelincir
seraya membelai wajah jiwa-ku

Sesungguhnya "aku", tidak mempermasalahkan akan jalan-mu
tapi akan tongkat-mu kau harus memiliki tongkat yang kuat.

Dan.. jangan lupa teruslah berjalan..

aku..menunggu-mu di ujung tapak penderitaan

20 Mei, 2010

Anugerah Ibu Anugerah

Sejak kecil, baru lahir ketika kita merasakan hangatnya susu dari dada ibu. Beruntungkah kita atau hanya angan?. Di dekat dan dinyanyikan sebuah lagu kasih, di belai dan mungkin dibacakan sedikit dongeng tentang Pinokio atau putri dari kayangan.

Hmmm, semenjak kita dewasa dan mulai biasa berfikir sendiri hadirlah sebuah anamoli "surga ada di telapak kaki ibu" benarkah atau hanya sebuah filosofi yang di tamankan dalam benak agar kita tidak lupa akan "bahasa ibu", "bahasa kasih".

Kembali ke kelahiran, sebuah pertarungan yang di lakukan oleh ibu saat itu semua sakit fisik yang di sebut neraka hadir di tengah selangkangan ibu. Ia meronta, sesat kemudian mengatur nafas dari mulut. Sang ayah hadir di sampingnya mengenggam tangan ibu dan memberikan sebuah semangat, walupun ia sebenarnya takut tapi itulah tugasnya.

Beruntungkah aku? atau hanya sebuah episode lain yang di putar di dalam alam bawah sadarku. keberanian mulai manjalar di hatiku, kugenggam erat dan ku lemparkan mentah-mentah, sementara lagu itu selalu menggema mengingatkan jalan sang ibu yang di tempuh "dengan darah dengan nanah".

Baca Selengkapnya...

Sekuntum Senyum

Berikanlah sekuntum senyum
untuk hati yang sepi

Berikanlah sekuntum senyum
untuk jiwa yang renta

gemarlap cahaya hanya ilusi
yang ku butuh hanya
sekuntum senyum

Ada duri merindu di dalam kalbu
menyeruat meronta dan menusuk-nusuk

Dalam genggamam sekuntum senyum
di lemparnya kepadaku

hanya kita yang tahu
hanya kita yang mengerti
sebagian menilai
sebagian meraba rasa

sampailah aku kepadanya

"sekuntum senyum"
18 Mei, 2010

kepulan kabut

Pagi ini sebersit kabut, kalam namun mengharukan tapi juga menggembirakan meraba kesendirian. Wanginya separti telah ku kenal puluhan tahun yang lalu. Kadang merobek hati namun kemudian ia menampakkan wujudnya kembali seperti itu seterusnya.

Ada hal yang kita pahami sebagian sangat mudah, sebagian lagi gelap bisa terang bisa juga kabur.

Seperti sebuah permainan yang di kutuk melalui pikiran ketika hati memaknainya ia hilang tak tentu rimbanya separti tersesat dan tanpa ampun membalikkan kesadaran.

Sebersit kabut itu masih saja terbentuk dengan citranya yang anggun, meliuk-liuk dengan lincah seolah ia adalah penari ulung yang tak tertandingi kelihaian gerakannya. Ingin rasanya ku menyibak kepulan sang kabut dengan sepi jiwa dan menyedotnya dalam botol-botol anggur kosong itu.

Sampai-sampai ia kemudian melantunkan sebuah puisi yang ku kenal :

"kabut ku kabut mu,
sesungguhnya bentukku indah.


Mengapa kau ingin mengurungku
Lepaskanlah aku selayaknya burung-burung
yang terbang di angkasa dan membumi hanya untuk mampir
dan sekedar mencari minum atau makan.


sebenarnya kurungan itu adalah kutukan buatku,
kanapa aku di musuhi padahal aku hanya menyanyikan lagu kenestapaan hati.


Seandainya aku ini lagu maka kamu adalahan seruling ku
Seandainya aku ini Cinta maka aku pasanganmu.


genggamlah aku sesaat, namun kemudian aku akan pergi
menyisakan sebauah jawaban untuk hati.


Peluklah aku, sesaat kemudian aku akan terbang kembali
mengarungi alam, jiwa dan pikiran.



ketika ia telah membacakan puisinya, ia kambali menghilang, datang, menghilang, datang lagidan menghilang lagi dan terahkir ia akan tertawa menyebut dirinya dengan bangga "aku Kepulan Kabut....!!!
13 Mei, 2010

Berkaca pada cermin

Pagi cermin, siapakah yang paling cantik? tentu saja tuan Putri.
Di mulailah episode keluh kesah sang putri perihal pangeran2 yang di kencaninya

Seratus tahun sudah... Sang putri selalu menanyakan hal yang sama pada cermin dan berkeluh kesah. Sampai2 kulitnya kisut..! semuanya gagal tak ada pangeran yang mau meminangku sekarang..

itulah masalahnya tuan putri, sang cermin menjawab!.. setiap kali aku mengingatkan tuan putri tak mau mendengar malahan berkeluh kesah teruss.. cape dech..!!

Maksudmu cermin... kemudian cermin menjawab lantang.. Kau tuan putri terlalu banyak mengeluh sehingga para pangeran itu selalu berubah pikiran untuk meminang tuan putri...

Kenapa begitu..?? sang putri marah...

Ku beri satu rahasia.. kaum laki2 itu mahluk yang paling lemah. Secara mental, jadi tuan putri hanya menambahkan kelemahan mereka saat mengeluh, jelas saja meraka takut dan berubah pikiran lalu cabut dari tuan putri.

hmmmm aku mengerti sekarang.. (jawab sang putri yakin).

Tapi maaf, tuan putri sudah terlambat..(kata cermin)

Lho kenapa?? (sang putri penasaran)

Lihat aku tuan putri!!

Seperti yang nampak di cermin sang putri sudah amat tua dan renta! hanya menunggu di pendam dalam tanah saja....

-----

Mendengar kata2 itu, "ego" sang putri terusik dia marah dia kecewa. kata2 cermin membuat hatinya terkoyak melesat menusuk nadi.

Tibalah, waktunya sang putri memproklamirkan kemerdekaan "ego"nya ia harus berdemo terhadap cermin untuk menyampaikan "kebenaran" versinya

Tidak, cermin kau sungguh salah menilaiku. Aku adalah pekerja keras dan sangat terpelajar dan laki-laki adalah tempat ku mengeluh untuk melepaskan beben pekerjaan yang menjemukan.

Sang cermin pun menjawab, ya ya ya itulah masalahnya tuan putri!, tuan putri tak pernah tulus.. selalu mencari pembenaran.

Pekerjaan tuan putri di pakai hanya untuk bermain-main. Pendidikan tuan putri juga di pakai hanya sebagai atribut yang tidak berguna. Dan yang paling parah tuan purti menganggap diri lemah dari kacamata gender. Sesungguhnya tuan putri wanita tidak selemah itu.

Tuan putri menangis.. suaranya bergetar.. apa yang harus ku lakukan..

Tenang tuan putri selalu ada "kabar baik", kembangkanlah diri mu. Keceriaan, semangat serta jiwa mudamu. Sebab didalam dirimu sungguh amat tua dan renta! seperti yang sudah aku jelaskan di atas dan itu harus di kubur! sebagai peringatan jika kami kembali! seperti dulu!! "ingat itu".

Sang purti menghapus air matanya dam memeluk cermin yang tak lain adalah perwujudan dari "hati Nuraninya".

Permainan baru telah dimulai, sementara Dalam hati sang putri berkata Terima Kasih "Cermin Nurani-Ku"....
09 Mei, 2010

Firman Daun

Lihat aku.. hijau.. segar dan berkilau di terpa cahaya matahari.

Tapi taukah kamu, aku hanya sementara tidak kekal, sebentar lagi warnaku akan pudar kecoklatan di makan sang waktu.

Namun sebelum itu terjadi aku akan berfirman. "Aku Daun"

Taukah kamu bahwa tuanya aku adalah sebuah proses alamiah!, aku hidup kemudian mati kemudian hidup lagi.

Dan Nanti tiba saatnya aku mati dan berguguran sesungguhnya hal itu terjadi karena izin Allah yang maha agung. Saat tubuhku tua dan mengering aku akan menggugurkan diriku ke hariban bumi.

haaaah hanya orang-orang yang memahami ku akan mengerti.

Bahwa aku sesungguhnya tidak mati, bumi dan tanah akan memakanku kemudian aku jadi makanan pohon yang telah menumbuhkan aku.

Dengan izin-Nya aku mati dan dengan izinnya pula aku mengabdikan kematianku menjadi makanan sumberku.