All About Love

"Ibu!" Bisikanlah di telinga-ku : Dear LoverBoy-ku "tak apa2 jika kamu merasa takut, berarti di sana masih ada kesempatan!" & itu pasti jangan takut...

About Me

Foto Saya
Maddie Depal Suyadi
Indonesia Blogger - Blogger Indonesia - piSS-bloGGer bukan yang paling pintar, hanya ingin berbagi sedikit pengetahuan kepada Anda.. so Enjoy..!! Salam Blogger Mania Di Indonesia.

Saat ini sedang aktif  menulis konten-konten tutorial blogger, photoshop, Sosial Media dan TI. Kadang iseng menulis puisi, cerpen dan artikel2 tentang buku dan juga karya seni digital abstrak dan surealis :)
Lihat profil lengkapku

Menu Hati

Fo'Love'ers

Komen Lover

13 Mei, 2010

Berkaca pada cermin

Pagi cermin, siapakah yang paling cantik? tentu saja tuan Putri.
Di mulailah episode keluh kesah sang putri perihal pangeran2 yang di kencaninya

Seratus tahun sudah... Sang putri selalu menanyakan hal yang sama pada cermin dan berkeluh kesah. Sampai2 kulitnya kisut..! semuanya gagal tak ada pangeran yang mau meminangku sekarang..

itulah masalahnya tuan putri, sang cermin menjawab!.. setiap kali aku mengingatkan tuan putri tak mau mendengar malahan berkeluh kesah teruss.. cape dech..!!

Maksudmu cermin... kemudian cermin menjawab lantang.. Kau tuan putri terlalu banyak mengeluh sehingga para pangeran itu selalu berubah pikiran untuk meminang tuan putri...

Kenapa begitu..?? sang putri marah...

Ku beri satu rahasia.. kaum laki2 itu mahluk yang paling lemah. Secara mental, jadi tuan putri hanya menambahkan kelemahan mereka saat mengeluh, jelas saja meraka takut dan berubah pikiran lalu cabut dari tuan putri.

hmmmm aku mengerti sekarang.. (jawab sang putri yakin).

Tapi maaf, tuan putri sudah terlambat..(kata cermin)

Lho kenapa?? (sang putri penasaran)

Lihat aku tuan putri!!

Seperti yang nampak di cermin sang putri sudah amat tua dan renta! hanya menunggu di pendam dalam tanah saja....

-----

Mendengar kata2 itu, "ego" sang putri terusik dia marah dia kecewa. kata2 cermin membuat hatinya terkoyak melesat menusuk nadi.

Tibalah, waktunya sang putri memproklamirkan kemerdekaan "ego"nya ia harus berdemo terhadap cermin untuk menyampaikan "kebenaran" versinya

Tidak, cermin kau sungguh salah menilaiku. Aku adalah pekerja keras dan sangat terpelajar dan laki-laki adalah tempat ku mengeluh untuk melepaskan beben pekerjaan yang menjemukan.

Sang cermin pun menjawab, ya ya ya itulah masalahnya tuan putri!, tuan putri tak pernah tulus.. selalu mencari pembenaran.

Pekerjaan tuan putri di pakai hanya untuk bermain-main. Pendidikan tuan putri juga di pakai hanya sebagai atribut yang tidak berguna. Dan yang paling parah tuan purti menganggap diri lemah dari kacamata gender. Sesungguhnya tuan putri wanita tidak selemah itu.

Tuan putri menangis.. suaranya bergetar.. apa yang harus ku lakukan..

Tenang tuan putri selalu ada "kabar baik", kembangkanlah diri mu. Keceriaan, semangat serta jiwa mudamu. Sebab didalam dirimu sungguh amat tua dan renta! seperti yang sudah aku jelaskan di atas dan itu harus di kubur! sebagai peringatan jika kami kembali! seperti dulu!! "ingat itu".

Sang purti menghapus air matanya dam memeluk cermin yang tak lain adalah perwujudan dari "hati Nuraninya".

Permainan baru telah dimulai, sementara Dalam hati sang putri berkata Terima Kasih "Cermin Nurani-Ku"....

0 komentar:

Posting Komentar