All About Love

"Ibu!" Bisikanlah di telinga-ku : Dear LoverBoy-ku "tak apa2 jika kamu merasa takut, berarti di sana masih ada kesempatan!" & itu pasti jangan takut...

About Me

Foto Saya
Maddie Depal Suyadi
Indonesia Blogger - Blogger Indonesia - piSS-bloGGer bukan yang paling pintar, hanya ingin berbagi sedikit pengetahuan kepada Anda.. so Enjoy..!! Salam Blogger Mania Di Indonesia.

Saat ini sedang aktif  menulis konten-konten tutorial blogger, photoshop, Sosial Media dan TI. Kadang iseng menulis puisi, cerpen dan artikel2 tentang buku dan juga karya seni digital abstrak dan surealis :)
Lihat profil lengkapku

Menu Hati

Fo'Love'ers

Komen Lover

13 Oktober, 2010

Si Lebay

Perkenalkan namaku Lebay, tubuhku terbuat dari debu kerikil arcopodo yang di dalamnya mengalir darah semangat sangga buana, ototku terbentuk dari baja keberanian gajahmungkur dan hatiku tercipta dari bongkahan jiwa abadi surya kencana.

Telah kususuri jalan tapak penuh liku, duri dan nanah untuk kesekian kalinya. Jalan yang sarat akan peperangan nestapa pilu, dimana raja kepalsuan menjadi pemenangnya.

Pagi ini ku temui pengemis. Ku kepalkan ditangannya segenggam emas dua puluh empat karat. Ku modali para perampok itu senjata api untuk menembak kemaluannya sendiri. Ku nikahi seribu bidadari papa penuh penyakit dunia. Ketika mereka merengak dalam dekapan tali di leher, terkait di dahan pohon adenium raksasa. Untuk menyelesaikan penderitaan

Baca Selengkapnya...
09 Oktober, 2010

Surat-surat Cinta Kahlil Gibran dan May Zaidah 2

Surat dari Kahlil Gibran kepada May Zaidah, yang menceritakan tentang perasan Gibran yang terdalam tentang sahabat, yang tidak pernah mengerti buah dari rahasia dan pemikirannya, dan mengatakan bahwa : “Ini hanyalah nyanyian yang merdu” perihal isi hati Gibran.

Tentang ke-putus asa-an yang hanya bersifat sementara. Yang kemudian ke-putus asa-an akan itu akan berubah menjadi sebuah harapan.


Surat Dari Kahlil Gibran kepada May Zaidah

1 November 1920

Baca Selengkapnya...
08 Oktober, 2010

Cerpenku : SamSara dan Bulan

Sam, masih saja termenung, duduk di atas atap rumahnya memendangi bulan. Sara, gadis titisan medusa dan dewi sri, dengan kekuatan medusa dan kebijakan dewi sri menyatu dalam dirinya. Cantik dengan tatapan sendu yang bisa membuat lelaki terpatung seperti batu, jika menatapnya. Huuuuushh!!, Sam menghembuskan nafas bersama bayangan Sara yang sedikitpun tidak pernah hilang dari ingatannya.

Sara, kenapa kamu harus pergi. Ke kota yang tidak pernah aku bayangkan dan mengerti. Demikian aku selalu mengatakan padanya. Hanya untuk menjadi seorang penulis?, tidak inginkah kamu menghabiskan waktu bersamaku lagi dan memandang bulan, kemudian saling berbagi tentang penatnya hidup?.

Tak kuasa rasanya melepas gadis ini. Dia sahabat sekaligus perasaan hati yang terwujud, walaupun secara terang aku tidak pernah mengatakannya. Besok ia berangkat, aku amat bimbang. Apa aku harus mengantarnya dan mengucapkan “selamat berpisah”, dengan bola mata terpendar air mata?. Atau aku hanya diam di sini dan menitipkan, salam perpisahan ini kepada angin. Namun kemudian akan menimbulkan tanda tanya dan kebencian pada diri Sara, yang mengira aku tidak peduli akan kepergiannya. Ah, mungkin sebaiknya aku tidak melakukan ke-dua-nya. Biarlah ia pergi bersama kebencian itu, agar supaya Sara cepat melupakan aku. Meskipun Sara tidak pernah akan bisa melupakan Samdari seperti yang ia katakan sebelum-sebelumnya.

Baca Selengkapnya... 
06 Oktober, 2010

Surat-surat Cinta Kahlil Gibran dan May Zaidah 1

Dr. Jamil Jabre menulis : “Sulit dibayangkan seorang pria dan seorang wanita jatuh cinta tanpa saling mengenal atau bertemu, kecuali hanya lewat korespondensi (surat-menyurat). Akan tetapi para seniman memang punya cara hidup sendiri yang aneh, dan hanya dapat di pahami oleh mereka sendiri.

Beliau menambahkan : “Hubungan sastra dan hubungan cinta antara Kahlil Gibran dan May Zaidah bukanlah sebuah dongeng atau praduga, tetapi sebaliknya adalah sebuah fakta yang dapat di buktikan kepada umum lewat surat-surat yang di terbitkan oleh May Zaidah setelah Gibran Wafat.”

Ketika Buku sayap-sayap cinta (The Broken Wings), pertama kali terbit dalam bahasa arab, Gibran mengirimkan satu jilid kepada May Zaidah, seorang pengarang Wanita terkenal dari Lebanon. Gibran meminta kepada May Zaidah untuk mengulasnya. Untuk itu May menulis surat sebagai berikut :

Baca selengkapnya...